|
Yeshua
- sebagai channeler/perantara Pamela Kribbe
Sejarah Galaktik
Lightworker
Kelahiran dari Jiwa-jiwa
Jiwa-jiwa Lightworker sudah lama
lahir sebelum bumi dan kehidupan manusia dimulai.
Jiwa-jiwa lahir dalam gelombang. Di satu sisi jiwa
abadi, tanpa awal dan tanpa akhir. Tapi di sisi lain, jiwa lahir pada titik
waktu tertentu. Ini terjadi pada titik waktu, dimana jiwa mencapai kesadaran diri masing-masing. Sebelum
titik waktu tersebut jiwa-jiwa juga ada, tapi hanya sebagai kemungkinan. Masih
belum ada kesadaran tentang saya dan yang lain.
Kesadaran tentang “saya” muncul ketika entah bagaimana
ditarik garis pemisah antara kelompok-kelompok energi. Kami harus kembali
menggunakan metafora untuk menjelaskan hal ini.
Berpikirlah sejenak tentang samudra dan bayangkanlah
itu sebagai kawasan amat luas energi-energi yang mengalir. Aliran-aliran yang
terus-menerus saling menyatu dan kembali terpisah. Coba bayangkan, dimana
sebuah kesadaran menyebar memasuki seluruh samudra ini. Sebut saja samudra
sebagai spirit, jika kalian mau. Setelah beberapa lama di tempat-tempat
tertentu di samudra, terbentuk konsentrasi-konsentrasi kesadaran. Di sini
kesadaran lebih terpusat, tidak terlalu tersebar (difus) dibanding kawasan di
sekitarnya. Di seluruh samudra terus-menerus terjadi proses pemisahan, yang
menyebabkan bentuk-bentuk, tapi transparan, terbentuk di samudra. Bentuk-bentuk
ini, yang merupakan titik-titik kesadaran terpusat, bergerak mandiri, tidak
tergantung dari lingkungannya. Ia merasa terpisah dari samudra (spirit). Apa
yang terjadi di sini adalah kelahiran rasa paling mendasar bagi Diri Sendiri
atau Kesadaran Diri.
Mengapa titik-titik kesadaran terpusat justru terbentuk
di suatu tempat tertentu di samudra dan bukan ditempat lain? Itu sangat sulit
dijelaskan. Tapi dapatkah kalian merasakan, bahwa itu merupakan sesuatu yang
sangat biasa? Jika kalian menyebar bibit ke tanah, kalian akan menyimpulkan
bahwa tanaman-tanaman kecil yang tumbuh dari situ, semua berkembang dalam
waktunya masing-masing dan dengan iramanya sendiri. Beberapa bahkan tidak
tumbuh sama sekali. Di seluruh kawasan ada perbedaan. Mengapa? Energi dari samudra
(Spirit Samudra), secara intuitif mencari kemampuan berekspresi yang terbaik
untuk semua alirannya yang beragam, atau dengan kata lain untuk tingkatan-tingkatan
kesadaran.
Selama pembentukan titik-titik kesadaran individu
dalam samudra, ada kekuatan di samudra yang bekerja dari luar, atau begitu
kelihatannya. Ini adalah kekuatan inspirasi ilahi, yang dapat dipahami sebagai
aspek pria dari Itu yang yang menciptakanmu. Sementara samudra mewakili aspek
perempuan, sisi yang menerima, aspek pria dapat dibayangkan seperti sorotan
sinar yang mengalir ke samudra, yang menunjang proses pembedaan dan pemisahan
menjadi gumpalan-gumpalan individu kesadaran. Itu ibaratnya sinar matahari, yang
menghangati kecambah.
Samudra dan sorotan cahaya bersama-sama
membentuk sebuah kesatuan atau entitas yang mungkin dapat disebut sebagai archangel.* Ini adalah sebuah energi
arketipe (purwarupa) dengan kedua aspek baik pria maupun perempuan, dan energi malaikat inilah yang
memanifestasikan atau mengekspresikan dirinya sendiri kepada kalian. Kita akan
kembali pada penjelasan tentang archangel secara lebih rinci dalam bab terakhir
Serial Lightworker, yang berjudul “Cahayamu Sendiri”.
Setelah jiwa lahir sebagai sebuah unit kesadaran individual,
perlahan-lahan ia meninggalkan kondisi keesaan dalam samudra ini, yang telah
menjadi rumahnya untuk waktu lama. Jiwa semakin bertambah sadar, bahwa ia menjadi
terpisah dan menjadi berdiri sendiri.
Dengan kesadaran ini, rasa kehilangan atau kekurangan
muncul dalam jiwa untuk pertama kalinya. Ketika jiwa memulai perjalanan
penyelidikan sebagai entitas yang mandiri, dalam dirinya jiwa membawa kerinduan
tertentu akan keutuhan, sebuah keinginan untuk tergabung dalam sesuatu yang
lebih besar dari dirinya sendiri. Jauh di dalam dirinya, jiwa tetap menyimpan
memori sebuah kondisi kesadaran, dimana segalanya adalah satu, dimana tidak ada
“saya” dan “yang lain.” Ini apa yang dipahaminya sebagai “rumah”: kondisi
keesaan yang membahagiakan, sebuah tempat yang aman sepenuhnya dan serba
mengalir.
Dengan memori di belakang pikiran
ini, jiwa memulai perjalanannya melewati realitas, melewati berbagai bidang
pengalaman dan eksplorasi batin yang tak terhitung jumlahnya. Jiwa yang baru
lahir didorong oleh rasa keingintahuan dan memiliki kebutuhan besar akan pengalaman. Ini adalah unsur yang tidak
ada dalam kondisi kesatuan di samudra. Jiwa sekarang bebas menyelidiki segala
sesuatu yang ingin diselidikinya. Ia bebas untuk mencari keutuhan lewat segala
macam cara.
Di dalam alam semesta ada tingkatan
realitas yang tak terhitung jumlahnya untuk dijelajahi. Bumi hanya salah satu
dari itu dan masih ada lagi yang dipandang dari skala kosmik, terbentuk jauh
belakangan. Seperti semua hasil penciptaan, bumi juga merupakan manifestasi
dari visi dan pemikiran di dalam. Bumi tercipta dari keinginan dari dalam untuk
mempertemukan unsur-unsur berbagai realitas yang tidak saling terselaraskan.
Bumi dirancang untuk menjadi melting pot bagi spektrum besar berbagai pengaruh.
Kami akan menjelaskan hal ini nanti. Sekarang cukup diketahui, bahwa bumi
adalah pendatang yang relatif akhir di panggung kosmik, dan dimana banyak jiwa
yang sebelumnya sudah mengalami banyak kehidupan penjelajahan dan perkembangan
di tingkat realitas lainnya (planet, dimensi, sistem bintang, dsb.), jauh
sebelum bumi lahir.
Lightworker (pekerja cahaya) adalah jiwa-jiwa yang
sudah pernah banyak, banyak sekali hidup di tingkatan-tingkatan lain ini,
sebelum mereka untuk pertama kalinya berinkarnasi di bumi. Itulah yang
membedakan mereka dari “jiwa-jiwa bumi”, sebagaimana kami menyebutnya
berdasarkan kenyamanan. Jiwa Bumi adalah jiwa-jiwa, yang dalam perkembangannya
sebagai kesatuan kesadaran individual, cukup dini berinkarnasi di bumi. Orang
bisa mengatakan, mereka memulai siklus kehidupan di bumi ketika jiwa mereka
masih di tahap bayi. Pada saat itu jiwa-jiwa lightworker sudah “tumbuh dewasa”.
Mereka sudah mengumpulkan banyak pengalaman dan bentuk hubungan yang mereka lakukan
dengan jiwa-jiwa bumi ibaratnya orang tua dan anak-anak.
Perkembangan Kehidupan dan Kesadaran di Bumi
Perkembangan biologis kehidupan di bumi (evolusi
kehidupan) terkait erat dengan perkembangan spiritual dan ekspresi diri dari
jiwa-jiwa bumi. Meskipun tidak ada jiwa yang terikat pada planet tertentu,
kalian masih dapat mengatakan bahwa jiwa-jiwa bumi adalah penduduk asli planet
bumi. Hal ini karena sebagian besar perkembangan mereka terbentuk di bumi.
Pertumbuhan kesadaran mereka, kira-kira bertepatan dengan perkembangan berbagai
bentuk kehidupan di bumi.
Ketika unit-unit kesadaran individual
lahir, mereka agak mirip dengan sel-sel fisik tunggal dipandang dari struktur dan
peluangnya. Sama seperti sel-sel individual yang memiliki struktur yang relatif
sederhana, gerakan batin dari kesadaran yang baru lahir transparan. Masih belum
banyak diferensiasi yang terbentuk di dalamnya. Ada sebuah dunia dengan
berbagai kemungkinan bagi mereka, secara fisik maupun spiritual. Perkembangan
dari unit kesadaran yang baru lahir menjadi tipe kesadaran yang merefleksikan
diri sendiri, dapat mengamati dan bereaksi terhadap lingkungannya, mungkin bisa
dibandingkan dengan perkembangan organisme bersel tunggal menjadi organisme yang
hidup secara kompleks, yang berinteraksi dengan lingkungannya dalam berbagai
macam cara.
Kami di sini membandingkan
perkembangan kesadaran jiwa dengan perkembangan biologis kehidupan, dan kami
melakukannya bukan hanya secara metafora. Pada kenyataannya perkembangan
biologis kehidupan yang terjadi di bumi, harus ditinjau dari latar belakang
kebutuhan spiritual akan penjelajahan dan pengalaman dari sisi jiwa-jiwa bumi.
Kebutuhan ini atau keinginan untuk menjelajahi, menyebabkan terjadinya perkembangan
keragaman bentuk kehidupan di bumi. Seperti sudah kami katakan, penciptaan
selalu merupakan hasil dari gerakan kesadaran di dalam. Juga meskipun teori
evolusi, seperti yang saat ini dianut oleh ilmu pengetahuan kalian, sampai
batas-batas tertentu benar dalam menggambarkan evolusi bentuk kehidupan di
planet kalian, tapi itu sama sekali tidak memperhatikan dorongan batin, motif “tersembunyi”
di balik proses kreatif sangat mendalam ini. Perkembangan bentuk kehidupan di
bumi adalah karena gerakan-gerakan di dalam pada tingkat jiwa. Seperti biasa,
spirit mendahului dan menciptakan materi.
Jiwa-jiwa bumi berada pada tahap awal perkembangan mereka,
ketika mereka untuk pertama kalinya berinkarnasi di bumi. Mereka lahir sebagai
bentuk transparan unit kesadaran dengan kesadaran diri yang belum sempurna,
mereka berinkarnasi dalam bentuk materi yang paling cocok dengan kesadaran
mereka: makhluk bersel tunggal. Karena jiwa-jiwa ini terus berkembang, dari
pengalaman yang diperoleh dan diintegrasikan ke dalam kesadaran mereka, mereka
membutuhkan bentuk fisik yang lebih kompleks. Dengan demikian muncul
organisme-organisme kompleks di bumi, yang memenuhi keinginan batin jiwa
tersebut. Juga dalam bentuk dasar yang belum sempurna ini, kalian bisa melihat
bahwa kesadaran adalah kreatif. Dari kebutuhan yang terasa di dalam (batin), menciptakan
bentuk-bentuk kesadaran di dunia fisik, dan membantu untuk mengalami dan
mengekspresikan diri.
Evolusi spesies-spesies baru dan
inkarnasi jiwa-jiwa bumi menjadi anggota individual dari spesies-spesies
tersebut, menunjukkan eksperimen besar dalam hal kehidupan dan kesadaran.
Meskipun evolusi adalah dorongan kesadaran, bukan didorong oleh kecelakaan atau
insiden, ia tidak mengikuti garis yang telah ditentukan sebelumnya (takdir).
Ini disebabkan, kesadaran itu sendiri adalah bebas dan tidak dapat diprediksi
sebelumnya.
Jiwa-jiwa bumi bereksperimen
dengan segala macam bentuk kehidupan binatang. Mereka menghuni berbagai jenis
tubuh fisik dalam alam kerajaan binatang tapi tidak semua mengalami garis
perkembangan yang sama. Jalan perkembangan jiwa jauh lebih penuh fantasi dan
petualangan dibanding yang kalian duga. Tidak ada peraturan-peraturan di atas
atau di luar kalian. Kalian sendirilah peraturan bagi kalian. Misalnya, jika
kamu ingin mengalami kehidupan dari sudut pandang monyet, kamu suatu saat dapat
menemukan dirimu sendiri hidup dalam tubuh seekor monyet, mulai sejak lahir
atau sebagai pengunjung sesaat. Jiwa, terutama jiwa yang muda, haus akan
pengalaman dan ekspresi. Dorongan untuk menjelajahi ini menyebabkan keragaman
berbagai bentuk kehidupan yang berkembang di bumi.
Di dalam eksperimen besar tentang
kehidupan, munculnya bentuk kehidupan manusia menandai dimulainya tahapan
penting dalam perkembangan kesadaran jiwa di bumi. Sebelum menjelaskan ini
dalam rincian yang lebih luas, kami pertama-tama akan membahas tahap-tahap
perkembangan dalam jiwa secara umum.
Evolusi
Kesadaran: tahap bayi, menjadi dewasa, usia tua
Bila kita
memperhatikan perkembangan kesadaran jiwa setelah dilahirkan sebagai unit yang
individual, kira-kira ia melewati tiga tahapan. Tahap-tahap ini terlepas dari
tingkatan realitas tertentu (planet, dimensi, sistem bintang) yang dipilih jiwa
untuk menghuni atau mengalami.
1) Tahap
kepolosan (surga)
2) Tahap
ego (“dosa”)
3) Tahap
“kepolosan kedua” (pencerahan)
Orang
dapat membandingkan tahapan ini secara metafora sebagai bayi, menjadi dewasa
dan usia tua.
Setelah
jiwa-jiwa dilahirkan sebagai unit kesadaran individual, mereka meninggalkan
kondisi keesaan kesamudraan yang mereka ingat sebagai bahagia dan benar-benar
aman. Mereka kemudian pergi menjelajahi realitas dengan cara yang seluruhnya
baru. Mereka lambat laut tumbuh lebih sadar akan diri mereka sendiri dan cara
mereka yang unik, dibanding dengan sesama pelaku perjalanan lainnya. Mereka
sangat mudah menerima dan sensitif pada tahap ini, seperti halnya anak kecil
yang melihat dunia dengan mata yang terbuka lebar, sebagai ekspresi rasa ingin
tahu dan kepolosan.
Tahap ini
dapat disebut surgawi, karena pengalaman akan kesatuan dan keamanan masih segar
dalam memori jiwa-jiwa yang baru lahir. Mereka masih dekat dengan rumah; mereka
masih belum mempertanyakan hak mereka untuk menjadi siapa diri mereka.
Ketika
perjalanan mereka semakin jauh, memori akan rumah memudar saat mereka semakin
tenggelam dalam berbagai jenis pengalaman. Segala sesuatu adalah baru pada
awalnya dan segala sesuatu diserap tanpa kritik pada tahap bayi. Tahap baru
terbentuk ketika jiwa yang muda mulai bereksperimen
atas dirinya sendiri sebagai titik fokus dalam dunianya. Kemudian ia
benar-benar mulai menyadari bahwa ada “saya” dan “yang lain”. Ia mulai
bereksperimen dengan bagaimana dapat mempengaruhi lingkungannya dengan bersikap
sesuai realitas ini. Gagasan untuk melakukan sesuatu yang berasal
dari kesadarannya sendiri, adalah baru. Sebelumnya ia lebih kurang hanya
menerima secara pasif, apa yang terjadi di sekitarnya. Sekarang tumbuh rasa di
dalam jiwa, dimana ia memiliki kekuatan untuk memberi pengaruh, terhadap apa
yang dialaminya.
Ini adalah awal dari tahap ego.
Ego asalnya merupakan kemampuan
kalian, untuk mempengaruhi dunia luar dengan keinginan kalian. Harap
diperhatikan bahwa fungsi asli ego hanyalah sesuatu
yang memungkinkan jiwa untuk mengalami diri sendiri sepenuhnya sebagai entitas
yang terpisah. Ini adalah perkembangan yang alami dan positif dalam evolusi
jiwa. Ego tidak “buruk” di dalam dan terhadap dirinya sendiri. Namun ia
cenderung untuk ingin berekspansi atau agresif. Jika jiwa yang baru lahir
menemukan kemampuannya untuk mempengaruhi lingkungannya, ia jatuh cinta kepada
ego. Jauh di dalam, masih ada memori menyakitkan di dalam jiwa yang kini
menjadi dewasa; ia teringat rumah, ingat akan surga yang hilang. Ego tampaknya
memiliki jawaban untuk rasa sakit ini, rasa rindu rumah ini. Itu tampaknya
memungkinkan jiwa secara aktif menguasai realitas. Ego meracuni jiwa yang masih
muda dengan ilusi kekuasaan.
Jika pernah ada, jatuh dari kasih
karunia atau jatuh dari surga, maka itu adalah: kesadaran jiwa muda yang
menjadi terpesona oleh kemungkinan-kemungkinan dari ego, oleh janji kekuasaan.
Namun tujuan utama kesadaran yang lahir sebagai jiwa-jiwa individual adalah
untuk menyelidiki, untuk mengalami segala sesuatu yang ada: surga seperti
halnya neraka, tak bersalah seperti halnya “dosa”. Jadi jatuh dari surga bukan
suatu “salah jalan.” Tidak ada yang salah bila terkait dengan itu, kecuali jika
kalian mempercayainya. Tidak ada yang menyalahkan kalian, kecuali diri kalian
sendiri.
Ketika jiwa muda menjadi dewasa,
ada pergeseran lebih ke “berpusat pada saya” dalam cara mengamati dan mengalami
sesuatu. Ilusi kekuasaan justru memperkuat pemisahan antara jiwa-jiwa, bukan
keterhubungan. Karena hal ini, kesepian dan rasa keterasingan terbentuk dalam
jiwa. Walaupun ini tidak benar-benar disadari, jiwa menjadi seorang pejuang,
prajurit untuk kekuasaan. Kekuasaan tampaknya menjadi satu-satunya hal yang
menenangkan pikirannya – untuk sementara waktu.
Kami sudah membedakan tahap ke
tiga dalam perkembangan kesadaran jiwa jauh di atas: tahap pencerahan,
“kepolosan kedua” atau usia tua. Kami akan banyak berbicara tentang tahap ini
dan khususnya tentang transisi dari tahap kedua menuju ketiga nanti, dalam seri-seri
ini. Sekarang kami akan kembali pada cerita kami tentang jiwa-jiwa bumi, dan
kami akan menjelaskan bagaimana kebangkitan tahap ego bertepatan dengan
munculnya manusia di bumi.
Jiwa-jiwa
bumi memasuki tahap ego; munculnya manusia di bumi
Tahap
dimana jiwa-jiwa bumi mengeksplorasi kehidupan tanaman dan binatang, terjadi bertepatan
dengan tahap kepolosan atau surga pada evolusi jiwa di tingkat dalam. Kehidupan
di bumi berkembang di bawah tuntunan dan perlindungan dari makhluk-makhluk
spiritual dari alam malaikat dan dewa-dewi. (Dewa bekerja pada tingkat eterik,
yakni lebih dekat pada dunia fisik dibanding malaikat). Tubuh
eterik tanaman dan hewan tidak kritis menerima energi-energi keibuan yang
melindungi dan mengasuh dari alam malaikat dan dewa-dewi. Mereka tidak punya
kecenderungan untuk “membebaskan diri” atau menemukan cara mereka sendiri dalam
melakukan sesuatu. Masih ada rasa kesatuan dan harmoni yang mendalam di antara
semua makhluk hidup.
Munculnya manusia-kera,
bagaimanapun, menandai titik transformasi dalam perkembangan kesadaran.
Terutama dengan mereka dapat berjalan tegak dan melalui perkembangan otaknya,
kesadaran yang terdapat dalam manusia kera memungkinkan mereka menanggapi lebih
baik lingkungannya. Kesadaran yang berinkarnasi dalam (primata) anthropoid
mulai mengalami, bagaimana rasanya bila memiliki pengawasan lebih besar secara
langsung terhadap lingkungannya. Ia mulai menemukan kekuasaannya sendiri,
kemampuannya sendiri untuk mempengaruhi lingkungannya. Ia mulai menyelidiki kehendak bebas.
Perkembangan ini bukan kebetulan.
Itu adalah jawaban terhadap kebutuhan batin yang dirasakan oleh jiwa-jiwa bumi,
kebutuhan untuk menyelidiki individualitas pada tingkat lebih dalam dari sebelumnya.
Meningkatnya kesadaran diri sendiri pada jiwa-jiwa bumi, membentuk tahap untuk
munculnya manusia dalam makna biologi, manusia yang kita kenal saat ini.
Ketika jiwa-jiwa bumi sudah siap
untuk memasuki tahap ego, memungkinkan penciptaan manusia dari jiwa-jiwa ini
untuk mengalami bentuk kehidupan dengan kehendak bebas. Hal ini juga
menganugerahi kesadaran yang berinkarnasi, dengan sebuah kesadaran lebih besar
tentang “saya” sebagai lawan dari “yang lain.” Dengan ini, panggung ditata
untuk konflik-konflik yang mungkin antara “kepentingan saya” dan “kepentingan
kamu”, “keinginan saya”, dan “keinginan kamu”. Individu melepaskan diri dari
keesaan yang dinyatakannya sendiri, peraturan alami dari “memberi dan menerima”,
untuk mengetahui jalan-jalan lain apa yang masih tersedia. Ini menandai “akhir
dari surga” di bumi, tapi kami meminta kalian agar tidak memandang ini sebagai peristiwa
yang tragis, melainkan sebagai proses alami, seperti pergantian musim di bumi.
Itu adalah pergantian alami dari peristiwa-peristiwa, yang pada akhirnya
membuat kalian pada hari dan masa ini, mampu untuk menyeimbangkan keilahian dan
individualitas dalam diri kalian.
Ketika kesadaran jiwa bumi
memasuki tahap ego dan mulai menyelidiki apa artinya “menjadi manusia”, energi
dewa-dewi dan malaikat mundur perlahan-lahan. Ini sifat sangat alami dari
kekuatan-kekuatan ini, yang menghormati kehendak bebas dari semua energi yang
berhubungan dengan mereka. Mereka tidak akan pernah memberikan pengaruhnya
tanpa diminta. Dengan demikian kesadaran ego dapat bergerak dengan bebas, dan
jiwa-jiwa bumi berkenalan dengan semua keistimewaan dan kelemahan kekuasaan. Hal
ini juga mempengaruhi alam tanaman dan hewan. Orang dapat mengatakan bahwa
energi perebutan kekuasaan dan persaingan yang muncul, sebagian diserap oleh
alam non-manusia ini, yang menciptakan rasa gejolak kekacauan di dalam diri
mereka. Ini sekarang pun masih ada.
Ketika jiwa-jiwa bumi mendambakan
arena baru untuk pengalaman, ini juga membuat mereka bisa menerima
pengaruh-pengaruh eksternal yang baru. Di sini perhatian kami terutama pada
jenis-jenis pengaruh galaktik, extraterrestrial (luar angkasa), yang sangat
mengganggu jiwa yang menjadi dewasa tapi masih muda, dari jiwa-jiwa bumi. Pada titik
sejarah ini pula, jiwa-jiwa yang kami sebut lightworker (pekerja cahaya) datang
memasuki panggung arena.
Pengaruh galaktik
pada manusia dan bumi
Dengan pengaruh-pengaruh galaktik
atau extraterrestial, kami maksud pengaruh dari energi-energi kolektif yang
tergabung dalam sistem perbintangan, bintang-bintang atau planet-planet
tertentu. Di alam semesta, ada banyak tingkatan atau dimensi eksistensi. Sebuah
planet atau bintang dapat eksis dalam berbagai dimensi, mulai dari yang
bersifat materi sampai dimensi yang lebih eterik (halus). Secara umum,
kelompok-kelompok galaktik yang mempengaruhi jiwa-jiwa bumi, eksis dalam bentuk
tidak begitu “padat” atau kurang realitas materi, dibanding kalian yang eksis
di bumi.
Alam-alam galaktik dihuni oleh
jiwa-jiwa dewasa, jauh sebelum jiwa-jiwa bumi dilahirkan dan berada di fase ego
mereka yang sedang mekar-mekarnya. Ketika bumi lahir dengan seluruh bentuk
kehidupan dan akhirnya dihuni oleh manusia, tingkat-tingkat extraterrestrial
mengamati perkembangan ini dengan minat besar. Keberagaman dan kekayaan bentuk
kehidupan, menarik perhatian mereka. Mereka merasa sesuatu yang istimewa
berlangsung di sini.
Antara berbagai masyarakat
galaktik, sudah sejak lama berlangsung pertarungan kekuasaan dan pertempuran.
Ini adalah fenomena alami, dalam arti, karena kesadaran dari jiwa-jiwa yang
terlibat memerlukan pertempuran untuk
mengetahui semua tentang keterpusatan saya dan kekuasaan. Mereka menyelidiki
cara kerja ego dan ketika mereka “mencapai kemajuan”, mereka menjadi sangat
mahir dalam memanipulasi kesadaran. Mereka menjadi pakar dalam menaklukkan
jiwa-jiwa atau komunitas jiwa lainnya untuk menuruti aturan mereka, secara
subtil dan lewat sarana psikis yang kurang subtil.
Kepentingan yang diikuti komunitas
galaktik di bumi sangat egosentris. Mereka merasa mendapat kesempatan di sini
untuk menerapkan pengaruh mereka dalam cara baru dan penuh kekuasaan. Kalian
bisa mengatakan, pada saat itu pertempuran antar galaktik sudah mencapai
kebuntuan. Jika orang bertarung satu sama lain terus menerus, setelah beberapa
waktu tercapai sejenis keseimbangan, suatu divisi zona kekuatsaan, bisa
dikatakan demikian. Orang saling mengenal sedemikian baik, sehingga tahu di
mana masih ada ruang bergerak dan di mana tidak. Situasi mencapai titik buntu
lewat cara ini dan musuh-musuh galaktik berharap mendapat peluang baru di bumi.
Mereka berpikir bumi dapat menyediakan mereka arena baru, untuk menghidupkan
kembali pertempuran dan mengatasi kebuntuan.
Cara dimana masyarakat intergalaktik
berusaha menggunakan pengaruh mereka di bumi adalah dengan memanipulasi
kesadaran dari jiwa-jiwa bumi. Jiwa-jiwa bumi terutama mampu menerima pengaruh
mereka, jika jiwa-jiwa ini memasuki tahap ego. Sebelum itu, mereka kebal
terhadap segala bentuk kekuatan yang digerakkan dari luar, karena mereka tidak
punya keinginan untuk menerapkan kekuasaan dari mereka sendiri. Kalian kebal
terhadap agresi dan kekuasaan, jika tidak ada pada diri kalian yang dapat
dipakai melekat oleh energi-energi ini. Jadi energi-energi galaktik tidak
memiliki akses terhadap kesadaran jiwa bumi, sebelum jiwa-jiwa ini memutuskan sendiri
untuk menyelidiki energi kekuasaan.
Transisi menuju tahap ego membuat
jiwa-jiwa bumi rentan, karena dilihat dari tujuan mereka untuk menyelidiki
kesadaran ego, mereka sebagian besar masih polos dan lugu. Jadi tidak sulit
bagi kekuatan galaktik untuk memaksakan energi-energi mereka terhadap kesadaran
jiwa-jiwa bumi. Cara mereka beroperasi adalah dengan memanipulasi kesadaran
atau dengan pengendalian pikiran. Teknologi-teknologi mereka amat canggih.
Mereka kebanyakan menggunakan metode psikis, mirip seperti cuci otak melalui
sugesti hipnotis bawah sadar. Mereka beroperasi pada tingkat psikis dan astral,
tapi pengaruhnya terhadap manusia sampai ke tingkat materi/tubuh fisiknya.
Mereka mempengaruhi perkembangan otak manusia, mempersempit lingkup pengalaman
yang sebetulnya memungkinkan bagi manusia. Mereka pada dasarnya menstimulir
pola-pola berpikir dan bertindak yang berbasis ketakutan. Ketakutan memang
sudah ada dalam kesadaran jiwa-jiwa bumi, sebagai hasil rasa sakit dan rasa
rindu rumah yang dibawa oleh setiap jiwa muda dalam dirinya. Kekuatan-kekuatan galaktik
memanfaatkan keberadaan ketakutan ini sebagai titik awal mereka, untuk memperluas
secara besar-besaran energi-energi ketakutan dan sikap patuh, dalam pikiran dan
emosi jiwa-jiwa bumi. Ini memungkinkan mereka untuk mengendalikan kesadaran
manusia.
Prajurit-prajurit galaktik
selanjutnya mencoba memerangi musuh-musuh galaktik mereka dulu, lewat manusia.
Perebutan kekuasaan terhadap manusia adalah pertempuran antara musuh-musuh
galaktik lama, yang menggunakan manusia sebagai boneka-boneka yang mewakili
mereka.
Perasaan yang halus jiwa-jiwa bumi
akan individualitas dan otonomi, terpotong di tahap awal dengan intervensi
kekerasan ini, perang untuk memperebutkan hati manusia. Namun para pelaku
intervensi galaktik tidak benar-benar dapat merampas kehendak bebas mereka.
Seberapapun besarnya pengaruh extraterrestrial yang ada, inti ketuhanan di
dalam masing-masing kesadaran jiwa individual, tetap tidak dapat dihancurkan.
Jiwa-jiwa tidak bisa dihancurkan, juga meskipun kebebasan dan keilahian mereka
yang alami, tertutupi untuk waktu yang lama. Itu terkait dengan kenyataan bahwa
kekuasaan, pada akhirnya tidak nyata. Kekuasaan selalu mencapai tujuannya hanya
melalui ilusi-ilusi ketakutan dan ketidaktahuan. Mereka hanya dapat menutupi
dan menyembunyikan sesuatu, mereka tidak benar-benar dapat menciptakan atau
menghancurkan sesuatu.
Lebih lagi serangan besar-besaran
terhadap jiwa-jiwa bumi tidak hanya membawa kegelapan bagi bumi. Itu secara
tidak disengaja menginisiasi perubahan besar dalam kesadaran prajurit-prajurit
galaktik, perubahan menuju tahap kesadaran berikutnya: pencerahan atau
“kepolosan kedua.”
Akar Galaktik Jiwa-jiwa Lightworker
Bagaimana mengetahui jiwa-jiwa
lightworker terkait dengan sejarah ini?
Sebelum mereka datang ke bumi
untuk berinkarnasi dalam tubuh-tubuh manusia, jiwa-jiwa lightworker menghuni
berbagai sistem bintang untuk waktu lama. Bila meninjau perkembangan tiga tahap
dalam kesadaran, mereka menghabiskan sebagian besar masa kedewasaan di sana.
Ini adalah tahap dimana mereka meneliti kesadaran ego dan semua isu-isu
kekuasaan yang terkait dengan itu. Itu adalah tahap dimana mereka menyelidiki
kegelapan dan dimana mereka menyalahgunakan secara besar-besaran kekuatan
mereka.
Dalam
tahap galaktik ini, jiwa-jiwa (yang sekarang dikenal sebagai lightworker)
adalah co-creator dari manusia. Sama seperti kekuatan galaktik lainnya, mereka
berniat untuk menggunakan manusia sebagai boneka-boneka, untuk dapat
mendominasi bagian lain alam semesta. Sulit menjelaskan teknik-teknik yang
digunakan kekuatan galaktik dalam pertempuran-pertempurannya, karena itu tidak
sebanding dengan apapun yang ada di dunia kalian, setidaknya tidak dalam ukuran
dimana mereka menyempurnakannya. Pada dasarnya, teknologi perang galaktik
berdasarkan pada energi ilmiah yang bersifat non-materi. Mereka mengenal
kekuatan psiko dan mereka tahu bahwa kesadaran menciptakan realitas materi. Pandangan
metafisik mereka jauh lebih memadai dibanding pandangan-pandangan
materialistik, yang dianut ilmuwan-ilmuwan kalian saat ini. Karena ilmu pengetahuan
yang berlaku pada kalian memiliki pengertian, bahwa kesadaran sebagai hasil dari
proses-proses materi bukan dari cara sebaliknya, tidak memungkinkan untuk bisa
memahami kekuatan penciptaan dan kausal dari pikiran.
Pada masa
Cro-Magnon (manusia modern pertama di Eropa), jiwa-jiwa lightworker melakukan
intervensi terhadap perkembangan jiwa manusia pada tingkat genetik. Kalian
harus memahami interferensi genetik ini sebagai proses manipulasi dari atas ke
bawah; mereka mengimplan pada otak/kesadaran manusia, bentuk-bentuk pikiran
tertentu yang mempengaruhi organisme di tingkat fisikalis, tingkat seluler.
Hasil dari metode ini adalah dimana manusia Cro-Magnon hampir seperti robot
yang dipasangi unsur mekanik (implan buatan), yang membuat sebagian kekuatan
dan kesadarannya sendiri tidak berfungsi. Implan ini membatasi kebebasan
manusia, yang membuat manusia lebih cocok berfungsi sebagai instrumen untuk
tujuan-tujuan strategis extraterrestrial.
Melalui
intervensi dengan cara ini terhadap perkembangan kehidupan di bumi, jiwa-jiwa
lightworker mengganggu proses alami. Mereka tidak menghormati integritas
jiwa-jiwa bumi, yang dihuni spesies manusia berkembang. Dengan cara mereka
merampas kehendak bebas, yang baru diperoleh jiwa-jiwa bumi.
Pada
dasarnya tidak seorang pun dapat merampas kehendak bebas jiwa mana pun, seperti
akan kami sampaikan pada akhir paragraf terakhir. Namun pada prakteknya, karena
keunggulan extraterrestrial di semua tingkatan, jiwa-jiwa bumi praktis
kehilangan rasa penentuan diri sendiri dalam lingkup yang cukup luas.
Lightworker menganggap manusia sebagai alat, pada dasarnya sebagai benda, yang
membantu mereka merealisasikan tujuan mereka. Pada tahap itu mereka belum siap
menerima kehidupan sebagai sesuatu
yang berharga dalam dirinya sendiri. Mereka tidak menyadari dalam “yang lain”
(musuh-musuh mereka atau budak-budak mereka) adalah jiwa yang hidup seperti
mereka sendiri.
Sekarang
tidak ada gunanya melakukan penghakiman akan hal tersebut, karena itu semua
bagian dari perkembangan besar dan mendalam tentang kesadaran. Di dasar yang
terdalam tidak ada kesalahan, hanya pilihan bebas. Tidak ada korban-korban,
tidak ada pelaku-pelaku; akhirnya yang ada hanya pengalaman.
Kalian, jiwa-jiwa lightworker yang
dulu pernah memakai makna gelap dari penindasan ini, setelah itu menghakimi
diri kalian sendiri dengan amat berat untuk tindakan kalian. Bahkan sekarangpun
kalian masih membawa rasa bersalah yang mendalam, dimana kalian sebagian
merasakannya sebagai kalian tidak cukup
baik dalam apapun yang kalian lakukan. Perasaan ini berasal dari
kesalahpahaman.
Penting untuk dimengerti, bahwa
“lightworker” bukan sesuatu hanya karena kalian itu atau bukan itu. Itu sesuatu
yang mana kalian akan menjadi (become),
jika kalian melewati perjalanan pengalaman: mengalami terang dan gelap. Ada (being)
terang dan gelap. Jika kami harus memberi nama bagi kalian, kami akan menyebut
kalian jiwa yang terkristus ketimbang lightworkers.
Pernahkah
kalian memiliki pengalaman, dimana kesalahan buruk yang kalian lakukan akhirnya
mengubah hal-hal secara positif dan tidak terduga? Hal yang sama terjadi dari
hasil campur tangan galaktik terhadap bumi dan manusia. Dalam proses
menyusupkan implan kepada jiwa-jiwa bumi dengan energi-energi mereka,
kekuatan-kekuatan galaktik sebetulnya menciptakan melting pot yang besar dari
berbagai pengaruh di bumi. Kalian bisa mengatakan, bahwa unsur-unsur
pertempuran di antara berbagai jiwa galaktik, diimplan ke dalam manusia sebagai
ras, sehingga memaksa manusia untuk menemukan jalan untuk menyatukan mereka,
atau membawa mereka menuju ko-eksistensi damai. Meskipun hal itu membuat
perjalanan bagi jiwa-jiwa bumi amat berat, akhirnya itu menciptakan peluang
terbaik untuk terobosan positif, yakni tercapainya jalan keluar dari situasi
kebuntuan konflik-konflik galaktik.
Ingatlah,
segala sesuatu saling terkait. Ada sebuah tingkatan dimana jiwa-jiwa bumi dan
jiwa-jiwa galaktik bergerak didorong oleh tujuan yang sama. Ini adalah tingkat
malaikat (angelic). Setiap jiwa dalam inti terdalamnya adalah seorang malaikat.
Di tingkat angelic, keduanya baik prajurit galaktik dan jiwa bumi, setuju untuk
ambil bagian dalam drama kosmik yang dilukiskan di atas.
Intervensi
galaktik tidak hanya “membantu” bumi menjadi melting pot yang dulu merupakan tujuannya,
itu juga menandai dimulainya sebuah tipe kesadaran baru dari prajurit-prajurit
galaktik. Lewat cara-cara tak terduga, itu menandai akhir dari tahap ego, akhir
dari kedewasaan mereka, dan dimulainya sesuatu yang baru.
Akhir Tahap Ego bagi Lightworker
Perang intergalaktik telah
mencapai titik buntu sebelum bumi datang ke dalam permainan. Ketika pertempuran
kembali diperbaharui di bumi, pertempuran
itu benar-benar dialihkan ke bumi. Dengan peralihan ini, sesuatu mulai
berubah di dalam kesadaran galaktik. Masa perang galaktik sudah berlalu.
Meskipun mereka tetap terlibat
secara aktif dengan manusia dan bumi, jiwa-jiwa galaktik perlahan-lahan mundur
ke dalam peran sebagai pengamat. Dalam peran ini, mereka mulai menyadari
sejenis kelelahan di dalam keberadaan
mereka. Mereka merasa kekosongan di dalam. Meskipun pertempuran dan perjuangan
terus berlangsung, itu tidak terlalu membuat mereka tertarik seperti dulu.
Mereka mulai mengajukan pertanyaan-pertanyaan filosofis seperti: apa arti hidup
saya; mengapa saya berjuang sepanjang waktu; apakah kekuasaan benar-benar
membuat saya bahagia? Semakin mereka bergelut dengan pertanyaan ini, keletihan
perang mereka semakin kuat.
Prajurit-prajurit galaktik secara
bertahap mencapai akhir dari tahap ego mereka. Mereka tanpa disadari
mentransfer energi dari ego dan perebutan kekuasaan ke bumi, sebuah tempat yang
secara energetis terbuka untuk energi ini. Jiwa-jiwa bumi pada saat itu baru
saja mulai menjelajahi kesadaran tahap ego.
Di dalam kesadaran
prajurit-prajurit galaktik, sebuah ruang tertentu sudah tercipta: sebuah tempat
untuk keraguan, tempat untuk melakukan refleksi. Mereka memasuki masa
transformasi, yang ingin kami lukiskan dengan membedakan langkah-langkah
berikut
1. Merasa tidak puas akan apa yang
ditawarkan kesadaran berdasarkan ego kepada kalian, merindukan “sesuatu yang
lain”: awal dari akhir
2. Menyadari adanya ikatan kalian terhadap kesadaran berdasarkan
ego, mengakui dan melepaskan emosi-emosi dan pikiran yang terkait dengan itu: tengah dari akhir
3. Membiarkan energi-energi lama yang
berdasarkan ego dalam diri kalian mati, keluar dari kepompong: akhir dari akhir
4. Kebangkitan kesadaran berdasarkan
hati di dalam kalian, yang dimotivasi oleh cinta kasih dan kebebasan: membantu
orang lain melakukan transisi
Keempat langkah ini menandai
transisi dari kesadaran berbasis ego menuju kesadaran berbasis hati. Harap
diingat bahwa baik bumi, juga manusia demikian pula alam-alam galaktik pergi
menempuh fase ini, hanya tidak secara simultan.
Planet bumi saat ini menempuh
langkah ke-3. Banyak diantara kalian lightworker juga sedang berada di langkah ke-3,
selaras dengan proses di dalam bumi. Sejumlah dari kalian masih berjuang dengan
langkah kedua, dan ada beberapa yang sudah mencapai langkah keempat, merasakan
kenikmatan sukacita dan inspirasi yang tulus dari hati.
Namun, sebagian besar umat
manusia, sama sekali tidak berkeinginan melepaskan kesadaran berbasis ego.
Mereka bahkan masih belum memasuki langkah pertama fase transisi. Ini bukan
sesuatu yang harus dihakimi atau dikritik atau disesalkan. Cobalah melihat ini sebagai proses alami seperti halnya
pertumbuhan suatu tanaman. Kalian tidak menghakimi suatu bunga karena masih
kuncup dan bukannya mekar sepenuhnya. Cobalah melihatnya dalam cahaya ini. Melakukan
penghakiman moral terhadap efek-efek destruktif dari kesadaran berbasis ego
dalam dunia kalian, dilakukan atas dasar kurangnya wawasan dinamika spiritual.
Selain itu, hal tersebut memperlemah kekuatan kalian sendiri, karena marah dan
frustrasi yang kadang-kadang kalian rasakan saat melihat warta berita atau
membaca surat kabar, tidak dapat ditransformasikan kepada sesuatu yang
konstruktif. Itu hanya menguras energi dan membawa vibrasi kalian ke tingkat
lebih rendah. Coba melihat sesuatu dari jarak jauh, dari sikap percaya. Cobalah
secara intuitif merasakan nada yang subtil dalam kesadaran kolektif, hal-hal
yang sulit kalian dengar atau baca di media.
Tidak ada
gunanya untuk mencoba dan mengubah jiwa-jiwa yang masih terperangkap dalam
realitas kesadaran yang berbasis ego. Mereka tidak menginginkan “bantuan”
kalian, karena mereka masih belum terbuka untuk energi-energi berbasis hati
yang kalian – para lightworker – harapkan untuk dibagi dengan mereka. Meskipun
bagi kalian tampaknya mereka butuh bantuan, selama mereka tidak menginginkan
itu, mereka tidak membutuhkan itu. Sesederhana itu.
Lightworker
(pekerja cahaya) sangat senang memberi dan membantu, tapi dalam bidang ini
mereka sering kehilangan kemampuan penilaian mereka. Ini mengakibatkan
pemborosan energi dan dapat menyebabkan keraguan diri sendiri dan kekecewaan
pada diri lightworker. Tolong gunakan kemampuan penilaian kalian di sini,
karena keinginan untuk membantu, secara tragis dapat menjadi jebakan bagi
lightworker, yang menghalangi mereka untuk benar-benar menyelesaikan langkah ke-3
dalam transisi. (Pengertian “membantu” dibahas lebih lanjut dalam “Dari Ego Ke
Hati Bagian IV” dan juga dalam channeling “Jebakan
dalam jalan untuk menjadi penyembuh,” pada bagian Serial Penyembuhan).
Kami sekarang akan menyelesaikan
deskripsi kami tentang lightworker pada akhir tahap ego. Seperti kami katakan,
pada masa itu kalian tergabung di antara kerajaan galaktik (sistem
perbintangan), yang ikut campur dalam kehidupan manusia, kala manusia modern
mulai terbentuk. Ketika kalian mulai semakin lebih berperan sebagai pengamat,
kalian merasa lelah untuk berperang.
Kekuasaan yang kalian cari,
setelah sedemikian lama menghasilkan sejenis dominasi yang memusnahkan keunikan
dan kualitas individual, dari apa yang telah kalian dominasi. Jadi tidak ada
hal baru yang dapat masuk dalam realitas kalian. Kalian telah membunuh segala
sesuatu yang “lain.” Menempuh proses lewat cara ini membuat realitas kalian
statis dan dapat diprediksi dalam waktu singkat. Jika kalian semakin sadar akan
kekosongan di dalam pertarungan kekuasaan, kesadaran kalian terbuka untuk
kemungkinan-kemungkinan baru. Muncul kerinduan akan “sesuatu yang lain.”
Kalian telah menyelesaikan langkah
pertama transisi menuju kesadaran berbasis hati. Energi-energi ego, yang telah
memerintah bebas untuk waktu sangat lama menjadi tenang dan mengijinkan tempat
baru untuk “sesuatu yang lain.” Dalam hati kalian terbangun suatu energi baru,
seperti bunga yang lembut. Suara yang lembut dan tenang mulai berbicara kepada
kalian tentang “rumah”, sebuah tempat yang pernah kalian ketahui, tapi yang
terlupa selama perjalanan kalian. Kalian merasakan kerinduan akan rumah dalam
diri kalian.
Seperti halnya jiwa-jiwa bumi,
kalian pernah mengalami kondisi keesaan kesamudraan dari mana setiap jiwa
dilahirkan. Kalian secara bertahap berevolusi dari lautan ini sebagai unit-unit
kesadaran individual. Sebagai “jiwa-jiwa kecil” ini, kalian memiliki semangat
besar untuk menjelajah, sementara pada waktu yang sama, membawa di dalam diri
kalian memori menyakitkan tentang surga yang harus kalian tinggalkan.
Setelah kemudian kalian memasuki
kesadaran berdasarkan ego, rasa sakit ini masih berada di dalam kalian. Apa
yang pada dasarnya kalian coba lakukan adalah, untuk mengisi kekosongan di
dalam hati kalian ini dengan kekuasaan. Kalian berusaha memuaskan diri kalian
sendiri, dengan memainkan permainan pertempuran dan penaklukan.
Kekuasaan adalah energi yang paling
bertentangan dengan keesaan. Dengan menjalankan kekuasaan, kalian mengisolir
diri sendiri dari “yang lain”. Dengan berjuang demi kekuasaan, kalian menjauhkan
diri kalian sendiri semakin jauh dari rumah: kesadaran tentang kesatuan.
Kenyataan bahwa kekuasaan membawa kalian jauh dari rumah bukannya membawa
kalian makin dekat, untuk waktu lama disembunyikan dari kalian, karena
kekuasaan terjalin sangat kuat dengan ilusi.
Kekuasaan dapat dengan mudah menyembunyikan wajah aslinya terhadap jiwa yang
lugu dan tidak berpengalaman. Kekuasaan menciptakan ilusi akan keserba-adaan,
pemuasan, pengakuan dan bahkan cinta. Tahap ego adalah suatu eksplorasi tanpa
batas di bidang kekuasaan: dalam menang, kalah, berjuang, mendominasi,
memanipulasi, menjadi pelaku dan menjadi korban.
Pada tingkatan di dalam, jiwa
menjadi tercabik-cabik selama tahap ini. Tahapan ego adalah serangan terhadap
integritas jiwa. Dengan integritas kami maksud, kesatuan alami dan keutuhan dari
jiwa. Dengan memasuki kesadaran berbasis ego, jiwa masuk ke dalam kondisi
skizofrenia. Ia kehilangan kepolosannya. Di satu sisi jiwa bertempur dan
menaklukkan; di sisi lain, ia menyadari bahwa sesuatu yang salah untuk merusak
atau menghancurkan kehidupan makhluk hidup lainnya. Itu tidak terlalu salah
menurut sejumlah hukum atau hakim. Tapi jiwa pada dasarnya menyadari, bahwa ia
melakukan sesuatu yang menentang kodrat ilahi dirinya sendiri. Ini adalah sifat
alami dari inti diri ilahinya sendiri untuk menciptakan
dan memberi hidup. Ketika jiwa beroperasi dari keinginan akan kekuasaan
pribadi, jauh di dalam dirinya muncul rasa
bersalah. Lagi, tidak ada putusan
eksternal terhadap jiwa yang menyatakan ia menjadi bersalah. Jiwa sendiri
menyadari ia kehilangan kepolosan dan kemurniannya. Sementara jiwa mengejar
kekuasaan di luar, berkembang rasa menjadi tidak
layak yang menggerogotinya dari dalam.
Fase
kesadaran berbasis ego adalah tahap alami dalam perjalanan yang ditempuh jiwa. Pada
kenyataannya, ini merupakan eksplorasi penuh terhadap satu aspek dalam makhluk
jiwa: keinginan. Keinginan kalian membentuk jembatan antara bagian dalam dan
bagian luar dunia. Ini mungkin diinspirasi oleh keinginan akan kekuasaan atau
oleh keinginan untuk keesaan. Ini tergantung dari kondisi dari
kesadaran di dalam diri kalian. Jika jiwa kalian mencapai akhir dari tahap ego,
keinginan menjadi lebih dan semakin lebih merupakan perpanjangan dari hati. Ego
atau keinginan pribadi tidak dihancurkan, tapi ini mengalir sesuai dengan
kebijaksanaan dan inspirasi hati. Pada titik ini ego dengan gembira menerima
hati sebagai pembimbing spiritual. Keutuhan alami dari jiwa kembali terbentuk.
Ketika kalian, jiwa-jiwa lightworker
mencapai langkah ke-2 dalam transisi kesadaran berbasis ego menuju hati, kalian
merasa keinginan yang tulus untuk memperbaiki kesalahan yang telah kalian
perbuat di bumi. Kalian menyadari, bahwa kalian telah memperlakukan manusia di
bumi dengan buruk, dan kalian menghalangi ekspresi bebas dan perkembangan dari jiwa-jiwa
bumi. Kalian menyadari bahwa kalian telah merusak hidup itu sendiri, dengan
mencoba memanipulasi dan mengawasinya sesuai kebutuhan kalian. Kalian ingin
melepaskan manusia dari ikatan ketakutan dan keterbatasan, yang banyak membawa
kegelapan dalam hidup mereka, dan kalian merasa kalian dapat mencapai yang
terbaik untuk tujuan ini, dengan menginkarnasi diri kalian sendiri ke dalam
tubuh manusia. Jadi kalian berinkarnasi dalam
tubuh manusia, yang susunan genetikanya sudah sebagian diciptakan oleh kalian
sendiri, dengan tujuan mengubah ciptaan-ciptaan kalian dari dalam.
Jiwa-jiwa yang pergi ke bumi dengan misi ini, bertujuan untuk menyebarkan
cahaya ke dalam kreasi-kreasi yang dimanipulasi oleh mereka sendiri.
Oleh sebab
itu mereka disebut lightworker (pekerja cahaya). Kalian telah mengambil
keputusan untuk melakukan ini – dan menjadi terlibat dalam seluruh rangkaian
kehidupan di bumi – dari rasa tanggung jawab yang baru lahir dan juga dari rasa
ketulusan hati untuk mengambil beban karma ini atas kalian, agar kalian
benar-benar dapat melepaskan masa lalu.
Penerjemah: Dyan Andriana
Kostermans
© Pamela Kribbe
www.jeshua.net
*Keterangan dari penerjemah untuk Archangel:
Archangel dan Angel (dari istilah dalam Bahasa Inggris),
keduanya berarti malaikat. Yang agak membedakan Archangel dari Angel
kira-kira adalah Archangel memiliki
tanggung jawab tertentu terkait dengan malaikat-malaikat (Angel) lainnya. Kata Archangel, yang dalam istilah Bahasa Jerman Erzengel, agak sulit dicari padanannya
dalam istilah Bahasa Indonesia. Menurut sumber dari Wikipedia: Secara etimologi
Archangel berasa dari bahasa Yunani ἀρχή arch, ‘Awal,
pimpinan’, dalam arti lebih lanjut, ‘atas', dan άγγελος ángelos ‘Messenger/Utusan'.
|